Kamis, 22 Oktober 2015

cerpen misteri cinta

BAYANGAN MANTILI
KARYA : MURNIASIH


Remang-remang lampu temaram,berayun ke sana ke mari. Malam yang begitu pekat membawa pada puncak keheningan.  Ada banyak sepasang muda-mudi sedang bermesraan di antara pepohonan yang rindang. Mungkin karena malam minggu, jadi ada banyak pasangan yang sedang berkencan, para orangtua sudah tidak bisa melarang malah ada banyak yang mendukung kegiatan ini. Mungkin jaman sudah mulai tua. Atau Tuhan sudah mulai bosan untuk mengingatkan.

“Ardi kamu sedang apa malam-malam begini bersama seorang wanita?” suara Pak Mamat yang sedang ronda.

“Dia yang meminta saya untuk menjemputnya Pak, katanya di rumah lagi pada pergi semua.” Ardi menjelaskan,sembari memegang tangan Mantili.

“Bener begitu,Neng?” Pak mamat melemparkan pandangan penuh.

“Iya, Man.” Mantili mengangguk pelan.

Malam sudah semakin larut akhirnya mereka berpisah setelah orangtua Mantili menelepon, karena acara sudah selesai dan sudah sampai di Rumah. Rumah mantili menuju persawahan yang melewati sebuah kali. Gelap gulita tanpa ada banyak lampu karena hanya satu dua buah lampu temaram yang menyinari daerah menuju rumahnya.

****

“Ada mayat yang terapung di kali.” Suara gaduh rakyat saling bertautan.

Semua saling berteriak karena di desanya sedang terjadi malapetaka. Wanita muda dengan berbusana  warna merah ditemukan tewas di Kedung Baya. Itu sebutan untuk kali tersebut karena konon katanya ada banyak buaya.
“Siapa wanita itu namanya Kang?” Ardi bergegas keluar dari rumah karena mendengar kabar tersebut.

“Kurang tau Le, coba kamu liat sendiri di kali!” Perintah Pak Mamat.

Membiru di sekujur tubuhnya, ada bekas gigitan  di lehernya. Kini wanita yang ada di depan matanya telah tak bernyawa lagi, dia adalah Mantili. Tak menyangka kalau tadi malam adalah malam terahir dia bertemu dengan kekasihnya.

Hasil visum tidak cukup membuktikan kalau Mantili telah dibunuh oleh seseorang. Hingga kasus ini menjadi kabar paling santer di tanah air. Berbagai siaran televisi menyajikan berita. Tapi tidak ada bukti yang kuat sehingga menyulitkan pihak kapolsek untuk menyelidi lebih jauh. Masyarakat hanya menduga-duga kalau Mantili mungkin mati akibat dimangsa buaya putih sebanagsa makhluk siluman, yang suka memangsa manusia untuk dijadikan tumbal ketentraman desa.



*****

Enam bulan telah berlalu bayang-bayang Mantili masih membekas di hati dan pikiran Ardi. Dia  mencoba menerima kenyataan pahit itu tapi tak pernah bisa untuk move on dari kisah cintanya yang begitu kelam. Ada banyak kenangan bersamanya, bersama wanita yang dicintainya. Berbagai kegiatan telah banyak dijalani untuk melupakan dan membangun harapan baru tapi tak juga bisa.

Seratus wanita telah berhasil dia taklukan untuk bisa menghapus banyang-banyang Mantili tapi tak ada yang bisa menggantikanya. Wanita-wanita malang yang harus merelakan hatinya terluka hanya demi pelarian luka yang belum juga terobati. Ardi yang menjadi phisikopat setelah ditinggal mati kekasihnya. Kegilaanya semakin berlajut hingga ahirnya bertemu dengan Mawar gadis desa dari sebarang.

Saat melihat acara layar tancap, di sebuah kawinan anak Kepala Desa. Sangat ramai muda-mudi datang beramai-ramai untuk menonton. Tanpa sengaja dia menabrak Mawar yang sedang membeli gembus makanan kecil dari singkong yang direbus kemudian diadon berbentuk bulat bolong tengahnya seperti kue donat kemudian digoreng. Gembus itu tumpah semua di depan Mawar. Ardi yang sedang mabuk tiba-tiba terkesima melihat kecantikan mawar, untuk sesaat dia tepukau tapi hanya diam mematung.

“Kalau jalan pakai mata!” Mawar menghardik.

Ardi naik pitam sorot matanya yang tajam bagai srigala, Mawar ketakutan bukan tanpa sebab. Dia menyadari keberanianya sebagai seorang wanita  di hadapan Pria bertubuh tegap.

“Tunggu kamu mau kemana?” akhinrya Ardi berkata.

Mawar pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun, dia bergegas menuju temannya. Dia duduk di kursi kecil yang disedikan. Gelisah hatinya mengingat kejadian tadi, matanya memandang ke area di sekitarnya.

“Kamu ini sebenarnya kenapa dari tadi tengok kanan kiri kaya di kejar hantu ya?” Isti menepuk pundaknya.

“Aku takut banget, ayo kita pulang saja lah!” pintanya sembari memegang pergelangan tangan Isti.

“Aah … ogah acaranya masih bagus.”

“Aduh kalau dia sampai ke sini nanti bagaimana?”

“ Dia siapa maksud kamu?” Isti memegang wajah Mawar yang sedari tadi masih tengak-tengok.

Tiba-tiba ada yang duduk di depan Mawar dan Isti .”Paling dia takut sama aku.”

“Kamu lagi ngapain sih, tadi sudah buat aku sial.” Wajah Mawar cemberut, tapi begitu menarik perhatian Ardi.

“Imut banget si kalau marah.” Ardi mencubit pipinya.

“Iiih … apa-apaan ya Kamu pegang-pengang aku.” Mawar menampik tanganya yang usil.

“Aduh, gantengnya.”  Isti melongo melihat ketampanan Ardi.

Itulah awal perkenalan Antara Mawar dan Ardi, tanpa disangka ada jejak cinta yang tertinggal. Ardi selalu terbayang wajahnya, sifat juteknya membuat dia semakin tertarik untuk mengenal dan mendekatinya lebih jauh.


*****

Kedekatan mereka kini terjalin, hati Ardi begitu gelisah bila bersama dengan Mawar. Meski cukup mengobati kerinduannya terhadap mantan kekasihnya, karena dari fisik Mawar sangat mirip dengan Mantili. Dari mata dan bibirnya itu dua sisi yang tidak bisa dielakan kalau mereka berdua bagai pinang dibelah dua.

“Kamu kenapa, lagi ga enak badan?” Mawar bertanya sembari mengusap keringat yang mengucur di pelipisnya.

Badan Ardi beregetar hebat dia mengejang, ahirnya Mawar keluar rumah untuk memanggil orang-orang. Warga terpaksa membawa dia ke rumah sakit. Ternyata setelah diketahui dia seorang pecandu narkoba. Hidupnya semakin rumit dengan jalan hidup yang dia pilih ,wanita dan narkoba sebagai pelarian dan kekecewaan dalam kisah cintanya.
Dia sakau karena dia mencoba untuk sembuh dengan tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang tersebut tapi kekebalan fisiknya telah terkuras habis karena sudah cukup banyak obat yang dia konsumsi. Hatinya sudah mulai menyadari akan kekhilafannya, keihklasannya untuk menerima takdir hidupnya kalau Mantili sudah tiada. Karena hidup dan mati sesorang sudah diatur oleh-Nya dalam kitab laumulmahfuz sebelum dia dilahirkan.

Sejatinya hidup di dunia ini memang Tuhan selalu menciptakan ujian karena Allah perlu menguji umat-Nya untu mengangkat hidup manusia. Bila dia lulus dalam ujian maka dia akan menjadi manusia terpuji, tapi bila mereka gagal dalam ujian maka dia akan menjadi manusia yang nista di dunia dan akhirat.

Kini bunga Mawar hidup telah memberikan keharuman untuk kehidupan Ardi yang lebih baik.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar