Selasa, 03 November 2015

Cerpen humor

Roti Koh Hambar
Oleh: Murniasih



"Bobo, lei fanlai lah, ngo kwaju lei a?" sapaku kepada nenek asuhku.

"Faiti lah, hoi mun, ngo hou kap!" perintahnya.

Dia pulang sehabis menjual ikan, kepiting, kerang, udang dan bermacam-macam sea food. Meskipun umur delapan puluh lima tahun tapi semangat bekerja yang tidak mau kalah dengan orang muda. Mungkin aku malah kalah, keuletan bekerja di masa tua, sedikit banyak memberikan pelajaran dan ilmu untuk bekal masa tuaku, dia tipe orang yang tidak mau merepotkan anak-anaknya. Sungguh nenek yang luar biasa.

Setelah pulang kebetulan masih ada waktu untukku membantu menghitung uang hasil belanjaan. Sebelum anak, menantu dan cucunya pulang, hari itu hari sabtu jatah Achau ko pulang untuk makan malam.

Waktu makan malam pun telah tiba, ada kentang goreng kesukaan Hou Yau Gan, sayur sawi, ayam oles madu, jamur paku, steam ikan dan sop jagung. Menu sudah komplit akhirnya kita pun makan malam bersama, kita makan satu meja. Mereka tidak pernah membedakan aku pembantu, karena mereka sudah menggapku seperti anak gadis nenek yang paling kecil hingga seluruh keluarga memanggilku dengan sebutan amui (adek perempuan).

⭐ ****

Besok hari minggu hari yang tentunya ditunggu-tunggu untuk para kungyan gaul di Hong Kong. Edisi bergaya bak super model kurang dana, hahaha. Tentu ingin tampil cantik dan wew, hihi ga sih biasa saja. Mungkin bagi yang suka bergaya kali. Aku biasanya setiap malam minggu ada acara maskeran, biar dandanan tidak belepotan karena wajah yang kusam.

Begitu asiknya aku duduk di depan televisi sambil membersihkan wajah, kemudian memakai masker ala ala korea punya dengan merek cap ratu alias ra tuku (gratis bo). Hehe asik deh punya bos yang perhatian, dikasih sang mantu nenek waktu mengantarkan ke dokter mata.

Sudah seperti hantu saja, dengan masker. Sudah kering aku pun tidur dengan nyenyak. Pagi-pagi  bersiap-siap untuk berangkat libur. Mencoba mencari kapas yang di letakan ruang tamu. Karena aku lupa waktu membawa ke kamar.

Alamak apa yang telah terjadi dengan kapasku, begitu terkejutnya ketika kudapatkan ada bekas gigitan di kapas kecantikan. Seperti dugaan para pembaca mungkinkah digigit kucing, tapi di rumahku tidak ada kucing apa lagi makhluk yang lain orang kita hanya tinggal berdua saja. Aku abaikan rasa penasaran itu dan berangkat libur dengan sejuta tanda tanya besar.

****

Aku pulang ke rumah, setelah lelah dan masih disempatkan untuk memasak untuk makan malam. Setelah memberikan diri mandi dan sebagainya. Kemudian  masuk ke kamar nenek,  biasanya aku akan mengajak untuk mengobrol dan bercerita banyak hal. Neneku sangat suka loh cerita pacaran, hihi pas deh cocok jadi punya temen curhat.


Aku tunjukkan bekas gigitan kapas itu kepada nenek setelah saat masuk ke kamarnya, dan ternyata benar nenek berusaha memakan kapas kecantikan. Hahahaha karena bentuknya yang berlapis-lapis seperti piang kon atau biskuit.

"Ngo em chi wo, ngo sek timkai mou meh, ngo em chi liko hai mat yea?" jelas neneku

Aku pun tertawa dengan sangat, sampai aku gemas sendiri, kemudian kucium neneku yang lucu.

Catatan :

- Bobo Lei fanlai lah, ngo kwaju lei a: nenek kamu pulang, aku kangen kamu
- Faiti lah hoi mun, ngo hou kap: cepatlah buka pintu, aku kebelet.
- Ngo em chi wo, ngo sek timkai mou meh, ngo em chi liko hai mat yea: saya tidak tahu, aku makan kenapa tidak ada rasa, aku tidak tahu ini apa.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar