sinaran
karya : Murniasih
Senja telah kembali ke peraduanya malam kembali hadir menyentuh bumi. Galang sedang merenung di balik jandela kamar. Dia menginat kembali pesan Ayahnya bahwa dia harus merawat dan menjaga adik-adiknya. Ayahnya meninggal saat dia sedang berumur 15 Tahun, saat dia ,asih dudulk di bangku kelas dua SMP. Dia kembali melihat ke arah kamar sebelah di sana Sang Ibu sedang tergolek lemah karena sakit yang dideritanya. stroke telah merenggut aktifitas yang biasanay dijalankan dengan mudah.
"Nak apa kamu sudah makan?" Ibunya memanggil Galang.
"Sudah Bu, kenapa ibu belum juga tidur ini sudah malam."
"Ibu hanya melihat kalau kamu belum juga mematikan lampu, kamu juga belum tidur Nak?"
Malam terbelah keheninganya karena percakapan mereka. Galang hanya terdiam akan pertanyaan yang dilontarkan ibunya. Hingga malam begitu ahirnya dia baru bisa memejamakan matanya. sayup-sayup mentari sudah mulai kembali menyapa bumi bukan hal yangbaru jika semua anak-anak Bu Rusmini bangun mereka secara mandiri sudah tahu apa yang harus dikerjkan karena mereka sangat mengerti tugas dan tanggung jawabnya. Kembali ke sekolah hanya itu harapan anak-anak untuk bisa mengubah dunia dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Pesan Sang ayah masih membekas ke sanubari dan memori kalau hanya {endidikan yang kan membawa meraka bersama kehidupam yang lebih baik.
Selasa, 03 November 2015
Cerpen humor
Roti Koh Hambar
Oleh: Murniasih
"Bobo, lei fanlai lah, ngo kwaju lei a?" sapaku kepada nenek asuhku.
"Faiti lah, hoi mun, ngo hou kap!" perintahnya.
Dia pulang sehabis menjual ikan, kepiting, kerang, udang dan
bermacam-macam sea food. Meskipun umur delapan puluh lima tahun tapi semangat
bekerja yang tidak mau kalah dengan orang muda. Mungkin aku malah kalah,
keuletan bekerja di masa tua, sedikit banyak memberikan pelajaran dan ilmu
untuk bekal masa tuaku, dia tipe orang yang tidak mau merepotkan anak-anaknya.
Sungguh nenek yang luar biasa.
Setelah pulang kebetulan masih ada waktu untukku membantu
menghitung uang hasil belanjaan. Sebelum anak, menantu dan cucunya pulang, hari
itu hari sabtu jatah Achau ko pulang untuk makan malam.
Waktu makan malam pun telah tiba, ada kentang goreng kesukaan
Hou Yau Gan, sayur sawi, ayam oles madu, jamur paku, steam ikan dan sop jagung.
Menu sudah komplit akhirnya kita pun makan malam bersama, kita makan satu meja.
Mereka tidak pernah membedakan aku pembantu, karena mereka sudah menggapku
seperti anak gadis nenek yang paling kecil hingga seluruh keluarga memanggilku
dengan sebutan amui (adek perempuan).
⭐ ****
Besok hari minggu hari yang tentunya ditunggu-tunggu untuk
para kungyan gaul di Hong Kong. Edisi bergaya bak super model kurang
dana, hahaha. Tentu ingin tampil cantik dan wew, hihi ga sih biasa saja.
Mungkin bagi yang suka bergaya kali. Aku biasanya setiap malam minggu ada acara
maskeran, biar dandanan tidak belepotan karena wajah yang kusam.
Begitu asiknya aku duduk di depan televisi sambil
membersihkan wajah, kemudian memakai masker ala ala korea punya dengan merek
cap ratu alias ra tuku (gratis bo). Hehe asik deh punya bos yang perhatian,
dikasih sang mantu nenek waktu mengantarkan ke dokter mata.
Sudah seperti hantu saja, dengan masker. Sudah kering aku pun
tidur dengan nyenyak. Pagi-pagi bersiap-siap untuk berangkat libur. Mencoba
mencari kapas yang di letakan ruang tamu. Karena aku lupa waktu membawa ke
kamar.
Alamak apa yang telah terjadi dengan kapasku, begitu terkejutnya
ketika kudapatkan ada bekas gigitan di kapas kecantikan. Seperti dugaan para
pembaca mungkinkah digigit kucing, tapi di rumahku tidak ada kucing apa lagi
makhluk yang lain orang kita hanya tinggal berdua saja. Aku abaikan rasa penasaran
itu dan berangkat libur dengan sejuta tanda tanya besar.
****
Aku pulang ke rumah, setelah lelah dan masih disempatkan
untuk memasak untuk makan malam. Setelah memberikan diri mandi dan sebagainya. Kemudian
masuk ke kamar nenek, biasanya aku akan mengajak untuk mengobrol
dan bercerita banyak hal. Neneku sangat suka loh cerita pacaran, hihi pas deh cocok
jadi punya temen curhat.
Aku tunjukkan bekas gigitan kapas itu kepada nenek setelah saat
masuk ke kamarnya, dan ternyata benar nenek berusaha memakan kapas kecantikan.
Hahahaha karena bentuknya yang berlapis-lapis seperti piang kon atau
biskuit.
"Ngo em chi wo, ngo sek timkai mou meh, ngo em chi liko
hai mat yea?"
jelas neneku
Aku pun tertawa dengan sangat, sampai aku gemas sendiri, kemudian
kucium neneku yang lucu.
Catatan :
- Bobo Lei fanlai lah, ngo kwaju lei a: nenek kamu pulang,
aku kangen kamu
- Faiti lah hoi mun, ngo hou kap: cepatlah buka pintu, aku
kebelet.
- Ngo em chi wo, ngo sek timkai mou meh, ngo em chi liko hai
mat yea: saya tidak tahu, aku makan kenapa tidak ada rasa, aku tidak tahu ini
apa.
Kamis, 22 Oktober 2015
cerpen misteri cinta
BAYANGAN
MANTILI
KARYA
: MURNIASIH
Remang-remang lampu temaram,berayun ke sana ke mari.
Malam yang begitu pekat membawa pada puncak keheningan. Ada banyak sepasang muda-mudi sedang
bermesraan di antara pepohonan yang rindang. Mungkin karena malam minggu, jadi
ada banyak pasangan yang sedang berkencan, para orangtua sudah tidak bisa
melarang malah ada banyak yang mendukung kegiatan ini. Mungkin jaman sudah
mulai tua. Atau Tuhan sudah mulai bosan untuk mengingatkan.
“Ardi kamu sedang apa malam-malam begini bersama
seorang wanita?” suara Pak Mamat yang sedang ronda.
“Dia yang meminta saya untuk menjemputnya Pak,
katanya di rumah lagi pada pergi semua.” Ardi menjelaskan,sembari memegang
tangan Mantili.
“Bener begitu,Neng?” Pak mamat melemparkan pandangan
penuh.
“Iya, Man.” Mantili mengangguk pelan.
Malam sudah semakin larut akhirnya mereka berpisah
setelah orangtua Mantili menelepon, karena acara sudah selesai dan sudah sampai
di Rumah. Rumah mantili menuju persawahan yang melewati sebuah kali. Gelap
gulita tanpa ada banyak lampu karena hanya satu dua buah lampu temaram yang
menyinari daerah menuju rumahnya.
****
“Ada mayat yang terapung di kali.” Suara gaduh
rakyat saling bertautan.
Semua saling berteriak karena di desanya sedang
terjadi malapetaka. Wanita muda dengan berbusana warna merah ditemukan tewas di Kedung Baya.
Itu sebutan untuk kali tersebut karena konon katanya ada banyak buaya.
“Siapa wanita itu namanya Kang?” Ardi bergegas
keluar dari rumah karena mendengar kabar tersebut.
“Kurang tau Le, coba kamu liat sendiri di kali!”
Perintah Pak Mamat.
Membiru di sekujur tubuhnya, ada bekas gigitan di lehernya. Kini wanita yang ada di depan
matanya telah tak bernyawa lagi, dia adalah Mantili. Tak menyangka kalau tadi malam
adalah malam terahir dia bertemu dengan kekasihnya.
Hasil visum tidak cukup membuktikan kalau Mantili
telah dibunuh oleh seseorang. Hingga kasus ini menjadi kabar paling santer di
tanah air. Berbagai siaran televisi menyajikan berita. Tapi tidak ada bukti
yang kuat sehingga menyulitkan pihak kapolsek untuk menyelidi lebih jauh.
Masyarakat hanya menduga-duga kalau Mantili mungkin mati akibat dimangsa buaya
putih sebanagsa makhluk siluman, yang suka memangsa manusia untuk dijadikan
tumbal ketentraman desa.
*****
Enam bulan telah berlalu bayang-bayang Mantili masih
membekas di hati dan pikiran Ardi. Dia mencoba menerima kenyataan pahit itu tapi tak
pernah bisa untuk move on dari kisah
cintanya yang begitu kelam. Ada banyak kenangan bersamanya, bersama wanita yang
dicintainya. Berbagai kegiatan telah banyak dijalani untuk melupakan dan
membangun harapan baru tapi tak juga bisa.
Seratus wanita telah berhasil dia taklukan untuk
bisa menghapus banyang-banyang Mantili tapi tak ada yang bisa menggantikanya.
Wanita-wanita malang yang harus merelakan hatinya terluka hanya demi pelarian luka
yang belum juga terobati. Ardi yang menjadi phisikopat
setelah ditinggal mati kekasihnya. Kegilaanya semakin berlajut hingga ahirnya
bertemu dengan Mawar gadis desa dari sebarang.
Saat melihat acara layar tancap, di sebuah kawinan
anak Kepala Desa. Sangat ramai muda-mudi datang beramai-ramai untuk menonton.
Tanpa sengaja dia menabrak Mawar yang sedang membeli gembus makanan kecil dari
singkong yang direbus kemudian diadon berbentuk bulat bolong tengahnya seperti
kue donat kemudian digoreng. Gembus itu tumpah semua di depan Mawar. Ardi yang
sedang mabuk tiba-tiba terkesima melihat kecantikan mawar, untuk sesaat dia
tepukau tapi hanya diam mematung.
“Kalau jalan pakai mata!” Mawar menghardik.
Ardi naik pitam sorot matanya yang tajam bagai
srigala, Mawar ketakutan bukan tanpa sebab. Dia menyadari keberanianya sebagai
seorang wanita di hadapan Pria bertubuh
tegap.
“Tunggu kamu mau kemana?” akhinrya Ardi berkata.
Mawar pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun, dia
bergegas menuju temannya. Dia duduk di kursi kecil yang disedikan. Gelisah
hatinya mengingat kejadian tadi, matanya memandang ke area di sekitarnya.
“Kamu ini sebenarnya kenapa dari tadi tengok kanan kiri
kaya di kejar hantu ya?” Isti menepuk pundaknya.
“Aku takut banget, ayo kita pulang saja lah!”
pintanya sembari memegang pergelangan tangan Isti.
“Aah … ogah acaranya masih bagus.”
“Aduh kalau dia sampai ke sini nanti bagaimana?”
“ Dia siapa maksud kamu?” Isti memegang wajah Mawar
yang sedari tadi masih tengak-tengok.
Tiba-tiba ada yang duduk di depan Mawar dan Isti .”Paling
dia takut sama aku.”
“Kamu lagi ngapain sih, tadi sudah buat aku sial.”
Wajah Mawar cemberut, tapi begitu menarik perhatian Ardi.
“Imut banget si kalau marah.” Ardi mencubit pipinya.
“Iiih … apa-apaan ya Kamu pegang-pengang aku.” Mawar
menampik tanganya yang usil.
“Aduh, gantengnya.” Isti melongo melihat ketampanan Ardi.
Itulah awal perkenalan Antara Mawar dan Ardi, tanpa
disangka ada jejak cinta yang tertinggal. Ardi selalu terbayang wajahnya, sifat
juteknya membuat dia semakin tertarik untuk mengenal dan mendekatinya lebih
jauh.
*****
Kedekatan mereka kini terjalin, hati Ardi begitu
gelisah bila bersama dengan Mawar. Meski cukup mengobati kerinduannya terhadap
mantan kekasihnya, karena dari fisik Mawar sangat mirip dengan Mantili. Dari
mata dan bibirnya itu dua sisi yang tidak bisa dielakan kalau mereka berdua
bagai pinang dibelah dua.
“Kamu kenapa, lagi ga enak badan?” Mawar bertanya
sembari mengusap keringat yang mengucur di pelipisnya.
Badan Ardi beregetar hebat dia mengejang, ahirnya
Mawar keluar rumah untuk memanggil orang-orang. Warga terpaksa membawa dia ke
rumah sakit. Ternyata setelah diketahui dia seorang pecandu narkoba. Hidupnya
semakin rumit dengan jalan hidup yang dia pilih ,wanita dan narkoba sebagai
pelarian dan kekecewaan dalam kisah cintanya.
Dia sakau karena dia mencoba untuk sembuh dengan
tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang tersebut tapi kekebalan fisiknya telah
terkuras habis karena sudah cukup banyak obat yang dia konsumsi. Hatinya sudah
mulai menyadari akan kekhilafannya, keihklasannya untuk menerima takdir hidupnya
kalau Mantili sudah tiada. Karena hidup dan mati sesorang sudah diatur oleh-Nya
dalam kitab laumulmahfuz sebelum dia dilahirkan.
Sejatinya hidup di dunia ini memang Tuhan selalu
menciptakan ujian karena Allah perlu menguji umat-Nya untu mengangkat hidup
manusia. Bila dia lulus dalam ujian maka dia akan menjadi manusia terpuji, tapi
bila mereka gagal dalam ujian maka dia akan menjadi manusia yang nista di dunia
dan akhirat.
Kini bunga Mawar hidup telah memberikan keharuman
untuk kehidupan Ardi yang lebih baik.
Rabu, 21 Oktober 2015
CERPEN inspiratif
Ratapan Guru dan Murid
Karya : Murniasih
“Abid … Abid … Abid?” Pak Rahmat
mengabsen saat pelajaran segera dimulai.
“Belum datang Pak,” kata Siti
menjelaskan.
“Anak itu terlambat lagi, biar nanti
bapak hukum nanti.” Wajahnya memerah dengan kumis tebalnya.
Sudah berulang kali Abid selalu
terlambat sekolah. Rumahnya yang jauh hingga mengharuskan dia menaiki sepeda
bututnya. Tapi semangatnya untuk belajar sangat tinggi hingga dia selalu
mendapatkan rengking pertama di kelas.
“Tok-tok …,” suara pintu di ketuk.
“Mana tangan kamu!” Pak Rahmat
memerintahkan.
Dengan pelan Abid menjulurkan telapak
tangannya yang mungil. Dengan wajah tertunduk di hadapan semua teman-teman. Air
matanya berlinang saat pukulan kecil kayu rotan meneyentuh tangannya.
“Jangan ada yang seperti dia ya
anak-anak!” Pak Rahmat memberi peringatan.
“Iya Pak Guru …,” jawab semua murid.
“Nanti ke kantor kamu ya Abid, bapak
mau bicara sesuatu dengan kamu sekarang kamu duduk!” Perintahnya.
Pelajaran sekolah kembali aktif
setelah tragedi pilu Abid menimpa.
******
Suasana sekolah sudah mulai sepi,
murid-murid sudah kembali pulang. Kini hanya Abid seorang diri yang berada di
dalam Kantor Guru. Baju lusuhnya, dengan sepatu berlubang. Bajunya yang sudah
kedodoran membuatya terlihat tidak rapi.
“Abid … kamu itu murid paling pandai
di kelas tapi kamu sama sekali tidak bisa disiplin waktu, kalau tidak bisa
berubah juga pihak sekolah bisa mencabut bea siswa itu.”
“Iya Pak, besok saya akan berangkat
lebih pagi lagi.
“Janji ya, kamu harus bisa
mempertahankan prestasi kamu demi bea siswa itu!”
“Iya Pak, trima kasih”
Dia pun meninggalkan sekolah dan
kembali mengayuh sepeda. Panas terik cukup membakar kulitnya yang tipis, tapi
semangatnya tak kalah seperti matahari yang terus mengikutinya di atas kepala.
Sapuan angin di tepi sawah cukup menyejukan badanya.
*****
Keesokan harinya ternyata kesalahan
Abid kembali terulang, dan hukuman kembali terjadi dengan rotan yang mendarat
di telapak tangannya. Tapi kini dia harus berdiri di luar kelas, tidak lagi
bisa mengikuti pelajaran. Tapi dia mampu mendengar penjelasan di luar kelas
dengan sungguh-sungguh karena daya tangkapnya yang tajam sehingga mudah saja
dia mencerna walau hanya mendengarkan.
Hingga pelajaran pertama usai ahinrya
Abid bisa memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Abid kenapa kamu sering sekali terlambat?” Tanya Akbar.
Abid hanya terseyum mendapat
pertanyaan seperti itu, wajahnya yang kuyu karena dia hanya memakan nasi goreng
sisa kemarin malam. Iya hanya digoreng dengan sedikit bumbu dan garam tanpa
campuran telur dan sayur sebagai penikmat rasa nasi goreng itu.
“Krucuk-krucuk ….” Perut Abid
berbunyi.
“ha …
ha … ha …, “ semua teman tertawa karena bunyinya sangat keras.
“Kamu
lapar ya? ini aku kasih roti!” Siti menyodorkan roti isi selai strawberi kepada
Abid.
Tapi
Abid menggeleng tak mau menerimanya, dia selalu teringat pesan ibunya untuk
tidak mudah menerima pemberian dari orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu,
karena dia tidak ingin menjadi seperti anak-anak jalanan yang mengemis meminta
belas kasihan.
“Gak
apa-apa Abid, kamu ambil saja ya!?” Siti ahirnya memasukanya ke dalam tas
miiliknya karena Abid bersikeras untuk menolaknya.
Setelah
selesai pelajaran ternyata Pak Rahmat mengikuti Abid pulang. Sesaat dia
berhenti karena jalan yang dilalui berliku dan melalui gang sempit sekaligus
berbatu. Terlebih saat harus turun melewati anak sungai dengan jembatan gantung
yang terlihat rapuh, iya harus menuntun sepeda untuk bisa melawatinya. Pak
Rahmat terlihat kepayahan membuntuti Abid. Kringatnya bercucuran, saat
menyebrang di jembatan gantung karena takut, hatinya kini tahu kalau perjuangan
dia ke sekolah sangat berat.
Kini
sampailah di ujung jalan dekat pantai pesisir, ada gubug kecil dengan dinding
seng dan kayu yang telihat sangat
sederhana. Dia cepat-cepat melepaskan pakaiannya, kakanya sudah menunggu
di depan pintu rumahnya. Diberikannya seragam sekolah Abid kepada kakanya,
kemudian dia cepat-cepat berangkat sekolah. Diciumnya punggung tangan ibunya yang sedang menggendong adek
bungsunya yang berumur dua tahun.
Kakanya bergegas mengayuh sepeda dengan cepat agar tidak terlambat ke
sekolah di sore hari. Sang Ibu mencium kening Abid seolah meminta maaf atas
semua keterbatasanya.
Di
balik pohon kelapa Pak Rahmat tak sadar kalau air matanya jatuh, kini dia
mengerti kenapa Abid sering terlambat sekolah karena perjalanan yang jauh dan
berliku sekaligus baju buat bergantian, kalau malam dicuci kadang pagi belum
kering hingga manunggu sang mentari datang untuk mengeringkan pakaianya.
*****
Abid sudah beridiri di depan pintu kelas tapi dia tidak berani masuk
karena takut akan dihukum lagi. Dia
mematung seolah sudah tahu hukuman apa yang pantas dia dapatkan kini dia berdiri di depan kelas dengan kaki
terangkat satu. Belum ada satu menit berlangsung,
“Abid sini masuk, Bapak kali ini
tidak akan menghukum kamu!”
“Iya Pak.” Abid berjalan menuju depan
kelas dekat meja guru.
Air mata Pak Rahmat sudah membasahi
pipinya, anak-anak pun menjadi ikut
menangis meski pun mereka tidak tahu apa yang Pak Guru mereka tangisi. Tangan gagah Pak rahmat memeluk erat tubuh
mungil Abid yang kurus, sangat erat dan sangat erat hingga terdengar
sesenggukan.
“Kenapa kamu tidak bilang tentang
keadaanmu, Nak?” Kemarin bapak mengikuti kamu pulang. Bapak sekarang sudah tahu
semuanya.”
“Kata ibu tidak boleh menceritakan
keadaan kami kepada orang lain.” Tutur Abid.
Pak rahmat ahirnya menceritakan
kepada teman sekelasnya. Semua ikut merasakan penderitaan Abid.
“Aku mau kasih uang jajanku hari ini
untuk bisa beli baju baru untuk Abid.” Siti maju ke depan memberikan uang
seribu rupiah di meja Pak Rahmat .
Ahirnya semua mengikuti apa yang dilakukan Siti
untuk memberikan uang jajan mereka. Abid dan Pak Rahmat saling berpandangan dan
mengucapkan terima kasih kepada semuanya karena rasa sosial terhadap temanya.
*****
Dua puluh tahun telah berlalu kini Abid telah menyelesaikan sekolahnya
menjadi seorang dokter. Setelah lama meninggalkan kampung halamanya kini dia
telah kembali menjadi orang yang berhasil. Dia mencari Pak Rahmat guru
terbaiknya yang selalu mendukungnya walau sudah tidak lagi menjadi muridnya dia
selalau memotivasi untuk bisa bangkit dan terus berjuang. Buku-buku selalu
dipinjamkannya untuk Abid belajar hingga ke jenjang SMA karena selapas itu dia
kuliah ke Luar Negeri di Belanda untuk melanjutnkan study-nya. Tapi saat dia kembali ternyanta Pak Rahmat telah di
panggil yang Kuasa.
“Semoga Bapak di tempatkan di Surga,
karena aku belum bisa membalas semua jasa-jasamu.” Abid menangis di depan
pusaran Pak Rahmat.
“Jangan menangis Nak, doakan dia dan
bacakan Alfatehah!” Nasehat ibunya.
Langganan:
Postingan (Atom)