Rabu, 21 Oktober 2015

CERPEN inspiratif

Ratapan Guru dan Murid
Karya : Murniasih


“Abid … Abid … Abid?” Pak Rahmat mengabsen saat pelajaran segera dimulai.

“Belum datang Pak,” kata Siti menjelaskan.

“Anak itu terlambat lagi, biar nanti bapak hukum nanti.” Wajahnya memerah dengan kumis tebalnya.

Sudah berulang kali Abid selalu terlambat sekolah. Rumahnya yang jauh hingga mengharuskan dia menaiki sepeda bututnya. Tapi semangatnya untuk belajar sangat tinggi hingga dia selalu mendapatkan rengking pertama di kelas.

“Tok-tok …,” suara pintu di ketuk.

“Mana tangan kamu!” Pak Rahmat memerintahkan.

Dengan pelan Abid menjulurkan telapak tangannya yang mungil. Dengan wajah tertunduk di hadapan semua teman-teman. Air matanya berlinang saat pukulan kecil kayu rotan meneyentuh tangannya.

“Jangan ada yang seperti dia ya anak-anak!” Pak Rahmat memberi peringatan.

“Iya Pak Guru …,” jawab semua murid.

“Nanti ke kantor kamu ya Abid, bapak mau bicara sesuatu dengan kamu sekarang kamu duduk!” Perintahnya.

Pelajaran sekolah kembali aktif setelah tragedi pilu Abid menimpa.

******
Suasana sekolah sudah mulai sepi, murid-murid sudah kembali pulang. Kini hanya Abid seorang diri yang berada di dalam Kantor Guru. Baju lusuhnya, dengan sepatu berlubang. Bajunya yang sudah kedodoran  membuatya terlihat tidak  rapi.

“Abid … kamu itu murid paling pandai di kelas tapi kamu sama sekali tidak bisa disiplin waktu, kalau tidak bisa berubah juga pihak sekolah bisa mencabut bea siswa itu.”

“Iya Pak, besok saya akan berangkat lebih pagi lagi.

“Janji ya, kamu harus bisa mempertahankan prestasi kamu demi bea siswa itu!”

“Iya Pak, trima kasih”

Dia pun meninggalkan sekolah dan kembali mengayuh sepeda. Panas terik cukup membakar kulitnya yang tipis, tapi semangatnya tak kalah seperti matahari yang terus mengikutinya di atas kepala. Sapuan angin di tepi sawah cukup menyejukan badanya.

*****

Keesokan harinya ternyata kesalahan Abid kembali terulang, dan hukuman kembali terjadi dengan rotan yang mendarat di telapak tangannya. Tapi kini dia harus berdiri di luar kelas, tidak lagi bisa mengikuti pelajaran. Tapi dia mampu mendengar penjelasan di luar kelas dengan sungguh-sungguh karena daya tangkapnya yang tajam sehingga mudah saja dia mencerna walau hanya mendengarkan.

Hingga pelajaran pertama usai ahinrya Abid bisa memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

“Abid kenapa kamu  sering sekali terlambat?” Tanya Akbar.

Abid hanya terseyum mendapat pertanyaan seperti itu, wajahnya yang kuyu karena dia hanya memakan nasi goreng sisa kemarin malam. Iya hanya digoreng dengan sedikit bumbu dan garam tanpa campuran telur dan sayur sebagai penikmat rasa nasi goreng itu.

“Krucuk-krucuk ….” Perut Abid berbunyi.

“ha … ha … ha …, “ semua teman tertawa karena bunyinya sangat keras.

“Kamu lapar ya? ini aku kasih roti!” Siti menyodorkan roti isi selai strawberi kepada Abid.

Tapi Abid menggeleng tak mau menerimanya, dia selalu teringat pesan ibunya untuk tidak mudah menerima pemberian dari orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu, karena dia tidak ingin menjadi seperti anak-anak jalanan yang mengemis meminta belas kasihan.

“Gak apa-apa Abid, kamu ambil saja ya!?” Siti ahirnya memasukanya ke dalam tas miiliknya karena Abid bersikeras untuk menolaknya.

Setelah selesai pelajaran ternyata Pak Rahmat mengikuti Abid pulang. Sesaat dia berhenti karena jalan yang dilalui berliku dan melalui gang sempit sekaligus berbatu. Terlebih saat harus turun melewati anak sungai dengan jembatan gantung yang terlihat rapuh, iya harus menuntun sepeda untuk bisa melawatinya. Pak Rahmat terlihat kepayahan membuntuti Abid. Kringatnya bercucuran, saat menyebrang di jembatan gantung karena takut, hatinya kini tahu kalau perjuangan dia ke sekolah sangat berat.

Kini sampailah di ujung jalan dekat pantai pesisir, ada gubug kecil dengan dinding seng dan kayu yang telihat sangat  sederhana. Dia cepat-cepat melepaskan pakaiannya, kakanya sudah menunggu di depan pintu rumahnya. Diberikannya seragam sekolah Abid kepada kakanya, kemudian dia cepat-cepat berangkat sekolah. Diciumnya punggung  tangan ibunya yang sedang menggendong adek bungsunya yang berumur dua tahun.  Kakanya bergegas mengayuh sepeda dengan cepat agar tidak terlambat ke sekolah di sore hari. Sang Ibu mencium kening Abid seolah meminta maaf atas semua keterbatasanya.

Di balik pohon kelapa Pak Rahmat tak sadar kalau air matanya jatuh, kini dia mengerti kenapa Abid sering terlambat sekolah karena perjalanan yang jauh dan berliku sekaligus baju buat bergantian, kalau malam dicuci kadang pagi belum kering hingga manunggu sang mentari datang untuk mengeringkan pakaianya.

*****
Abid sudah beridiri di  depan pintu kelas tapi dia tidak berani masuk karena takut akan dihukum lagi.  Dia mematung seolah sudah tahu hukuman apa yang pantas dia dapatkan  kini dia berdiri di depan kelas dengan kaki terangkat satu. Belum ada satu menit berlangsung,

“Abid sini masuk, Bapak kali ini tidak akan menghukum kamu!”

“Iya Pak.” Abid berjalan menuju depan kelas dekat meja guru.

Air mata Pak Rahmat sudah membasahi pipinya, anak-anak  pun menjadi ikut menangis meski pun mereka tidak tahu apa yang Pak Guru mereka tangisi.  Tangan gagah Pak rahmat memeluk erat tubuh mungil Abid yang kurus, sangat erat dan sangat erat hingga terdengar sesenggukan.

“Kenapa kamu tidak bilang tentang keadaanmu, Nak?” Kemarin bapak mengikuti kamu pulang. Bapak sekarang sudah tahu semuanya.”

“Kata ibu tidak boleh menceritakan keadaan kami kepada orang lain.” Tutur Abid.

Pak rahmat ahirnya menceritakan kepada teman sekelasnya. Semua ikut merasakan penderitaan Abid.

“Aku mau kasih uang jajanku hari ini untuk bisa beli baju baru untuk Abid.” Siti maju ke depan memberikan uang seribu rupiah di meja Pak Rahmat .
 Ahirnya semua mengikuti apa yang dilakukan Siti untuk memberikan uang jajan mereka. Abid dan Pak Rahmat saling berpandangan dan mengucapkan terima kasih kepada semuanya karena rasa sosial terhadap temanya.

*****
Dua puluh tahun telah berlalu  kini Abid telah menyelesaikan sekolahnya menjadi seorang dokter. Setelah lama meninggalkan kampung halamanya kini dia telah kembali menjadi orang yang berhasil. Dia mencari Pak Rahmat guru terbaiknya yang selalu mendukungnya walau sudah tidak lagi menjadi muridnya dia selalau memotivasi untuk bisa bangkit dan terus berjuang. Buku-buku selalu dipinjamkannya untuk Abid belajar hingga ke jenjang SMA karena selapas itu dia kuliah ke Luar Negeri di Belanda untuk melanjutnkan study-nya. Tapi saat dia kembali ternyanta Pak Rahmat telah di panggil yang Kuasa.

“Semoga Bapak di tempatkan di Surga, karena aku belum bisa membalas semua jasa-jasamu.” Abid menangis di depan pusaran Pak Rahmat.

“Jangan menangis Nak, doakan dia dan bacakan Alfatehah!” Nasehat ibunya.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar