Ratapan Guru dan Murid
Karya : Murniasih
“Abid … Abid … Abid?” Pak Rahmat
mengabsen saat pelajaran segera dimulai.
“Belum datang Pak,” kata Siti
menjelaskan.
“Anak itu terlambat lagi, biar nanti
bapak hukum nanti.” Wajahnya memerah dengan kumis tebalnya.
Sudah berulang kali Abid selalu
terlambat sekolah. Rumahnya yang jauh hingga mengharuskan dia menaiki sepeda
bututnya. Tapi semangatnya untuk belajar sangat tinggi hingga dia selalu
mendapatkan rengking pertama di kelas.
“Tok-tok …,” suara pintu di ketuk.
“Mana tangan kamu!” Pak Rahmat
memerintahkan.
Dengan pelan Abid menjulurkan telapak
tangannya yang mungil. Dengan wajah tertunduk di hadapan semua teman-teman. Air
matanya berlinang saat pukulan kecil kayu rotan meneyentuh tangannya.
“Jangan ada yang seperti dia ya
anak-anak!” Pak Rahmat memberi peringatan.
“Iya Pak Guru …,” jawab semua murid.
“Nanti ke kantor kamu ya Abid, bapak
mau bicara sesuatu dengan kamu sekarang kamu duduk!” Perintahnya.
Pelajaran sekolah kembali aktif
setelah tragedi pilu Abid menimpa.
******
Suasana sekolah sudah mulai sepi,
murid-murid sudah kembali pulang. Kini hanya Abid seorang diri yang berada di
dalam Kantor Guru. Baju lusuhnya, dengan sepatu berlubang. Bajunya yang sudah
kedodoran membuatya terlihat tidak rapi.
“Abid … kamu itu murid paling pandai
di kelas tapi kamu sama sekali tidak bisa disiplin waktu, kalau tidak bisa
berubah juga pihak sekolah bisa mencabut bea siswa itu.”
“Iya Pak, besok saya akan berangkat
lebih pagi lagi.
“Janji ya, kamu harus bisa
mempertahankan prestasi kamu demi bea siswa itu!”
“Iya Pak, trima kasih”
Dia pun meninggalkan sekolah dan
kembali mengayuh sepeda. Panas terik cukup membakar kulitnya yang tipis, tapi
semangatnya tak kalah seperti matahari yang terus mengikutinya di atas kepala.
Sapuan angin di tepi sawah cukup menyejukan badanya.
*****
Keesokan harinya ternyata kesalahan
Abid kembali terulang, dan hukuman kembali terjadi dengan rotan yang mendarat
di telapak tangannya. Tapi kini dia harus berdiri di luar kelas, tidak lagi
bisa mengikuti pelajaran. Tapi dia mampu mendengar penjelasan di luar kelas
dengan sungguh-sungguh karena daya tangkapnya yang tajam sehingga mudah saja
dia mencerna walau hanya mendengarkan.
Hingga pelajaran pertama usai ahinrya
Abid bisa memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Abid kenapa kamu sering sekali terlambat?” Tanya Akbar.
Abid hanya terseyum mendapat
pertanyaan seperti itu, wajahnya yang kuyu karena dia hanya memakan nasi goreng
sisa kemarin malam. Iya hanya digoreng dengan sedikit bumbu dan garam tanpa
campuran telur dan sayur sebagai penikmat rasa nasi goreng itu.
“Krucuk-krucuk ….” Perut Abid
berbunyi.
“ha …
ha … ha …, “ semua teman tertawa karena bunyinya sangat keras.
“Kamu
lapar ya? ini aku kasih roti!” Siti menyodorkan roti isi selai strawberi kepada
Abid.
Tapi
Abid menggeleng tak mau menerimanya, dia selalu teringat pesan ibunya untuk
tidak mudah menerima pemberian dari orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu,
karena dia tidak ingin menjadi seperti anak-anak jalanan yang mengemis meminta
belas kasihan.
“Gak
apa-apa Abid, kamu ambil saja ya!?” Siti ahirnya memasukanya ke dalam tas
miiliknya karena Abid bersikeras untuk menolaknya.
Setelah
selesai pelajaran ternyata Pak Rahmat mengikuti Abid pulang. Sesaat dia
berhenti karena jalan yang dilalui berliku dan melalui gang sempit sekaligus
berbatu. Terlebih saat harus turun melewati anak sungai dengan jembatan gantung
yang terlihat rapuh, iya harus menuntun sepeda untuk bisa melawatinya. Pak
Rahmat terlihat kepayahan membuntuti Abid. Kringatnya bercucuran, saat
menyebrang di jembatan gantung karena takut, hatinya kini tahu kalau perjuangan
dia ke sekolah sangat berat.
Kini
sampailah di ujung jalan dekat pantai pesisir, ada gubug kecil dengan dinding
seng dan kayu yang telihat sangat
sederhana. Dia cepat-cepat melepaskan pakaiannya, kakanya sudah menunggu
di depan pintu rumahnya. Diberikannya seragam sekolah Abid kepada kakanya,
kemudian dia cepat-cepat berangkat sekolah. Diciumnya punggung tangan ibunya yang sedang menggendong adek
bungsunya yang berumur dua tahun.
Kakanya bergegas mengayuh sepeda dengan cepat agar tidak terlambat ke
sekolah di sore hari. Sang Ibu mencium kening Abid seolah meminta maaf atas
semua keterbatasanya.
Di
balik pohon kelapa Pak Rahmat tak sadar kalau air matanya jatuh, kini dia
mengerti kenapa Abid sering terlambat sekolah karena perjalanan yang jauh dan
berliku sekaligus baju buat bergantian, kalau malam dicuci kadang pagi belum
kering hingga manunggu sang mentari datang untuk mengeringkan pakaianya.
*****
Abid sudah beridiri di depan pintu kelas tapi dia tidak berani masuk
karena takut akan dihukum lagi. Dia
mematung seolah sudah tahu hukuman apa yang pantas dia dapatkan kini dia berdiri di depan kelas dengan kaki
terangkat satu. Belum ada satu menit berlangsung,
“Abid sini masuk, Bapak kali ini
tidak akan menghukum kamu!”
“Iya Pak.” Abid berjalan menuju depan
kelas dekat meja guru.
Air mata Pak Rahmat sudah membasahi
pipinya, anak-anak pun menjadi ikut
menangis meski pun mereka tidak tahu apa yang Pak Guru mereka tangisi. Tangan gagah Pak rahmat memeluk erat tubuh
mungil Abid yang kurus, sangat erat dan sangat erat hingga terdengar
sesenggukan.
“Kenapa kamu tidak bilang tentang
keadaanmu, Nak?” Kemarin bapak mengikuti kamu pulang. Bapak sekarang sudah tahu
semuanya.”
“Kata ibu tidak boleh menceritakan
keadaan kami kepada orang lain.” Tutur Abid.
Pak rahmat ahirnya menceritakan
kepada teman sekelasnya. Semua ikut merasakan penderitaan Abid.
“Aku mau kasih uang jajanku hari ini
untuk bisa beli baju baru untuk Abid.” Siti maju ke depan memberikan uang
seribu rupiah di meja Pak Rahmat .
Ahirnya semua mengikuti apa yang dilakukan Siti
untuk memberikan uang jajan mereka. Abid dan Pak Rahmat saling berpandangan dan
mengucapkan terima kasih kepada semuanya karena rasa sosial terhadap temanya.
*****
Dua puluh tahun telah berlalu kini Abid telah menyelesaikan sekolahnya
menjadi seorang dokter. Setelah lama meninggalkan kampung halamanya kini dia
telah kembali menjadi orang yang berhasil. Dia mencari Pak Rahmat guru
terbaiknya yang selalu mendukungnya walau sudah tidak lagi menjadi muridnya dia
selalau memotivasi untuk bisa bangkit dan terus berjuang. Buku-buku selalu
dipinjamkannya untuk Abid belajar hingga ke jenjang SMA karena selapas itu dia
kuliah ke Luar Negeri di Belanda untuk melanjutnkan study-nya. Tapi saat dia kembali ternyanta Pak Rahmat telah di
panggil yang Kuasa.
“Semoga Bapak di tempatkan di Surga,
karena aku belum bisa membalas semua jasa-jasamu.” Abid menangis di depan
pusaran Pak Rahmat.
“Jangan menangis Nak, doakan dia dan
bacakan Alfatehah!” Nasehat ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar